PENCAPRESAN – HUT RI – ASEAN GAMES dan IDUL QURBAN 1439 H

Bagikan Berita
Abdurrauf Shaleng di Watansoppeng SulSel
MajalahPro.Co.Id — Agustus bagi bangsa Indonesia adalah bulan sejarah, bulan yang tidak akan pernah terlewatkan tanpa kegiatan seremonial perayaan HUT RI.  Hakekat dari kegiatan ini diharapkan terwariskan dari generasi ke generasi, sebuah hal yang lumrah dalam pemaknaan kesyukuran atas kemerdekaan di Republik tercinta ini. Agustus 2018 ini bagi penulis menyiratkan empat catatan sejarah,
PERTAMA: Seminggu sebelum momentum perayaan HUT RI ke 73 diwarnai dengan puncak hiruk pikuk  penCapresan sebagai bagian dinamika politik bangsa menuju suksesi kepemimpinan nasional. Semua anak bangsa mungkin dapat membaca kalau penCapresan ini diwarnai dengan tarik ulur dan kewas-wasan  dari dua kubu bahkan menjurus pada kebuntuan politik dalam penentuan Cawapres. Namun kebuntuan ini terjawab dengan “terdaulatnya” dua kandidat pendamping dari dua kubu tokoh nasional dengan segala plus minusnya.
KEDUA yakni seremonial perayaan HUT Proklamasi RI ke-73 yang terlaksana dengan meriah diseluruh penjuru tanah air, mulai dari kota hingga pesisir pantai dan pegunungan yang terisolir yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Sebuah nasionalisme anak bangsa yang tak diragukan buat negeri ini. Bahkan insiden “putus tali bendera” yang terjadi saat upacara detik detik HUT RI di Kab. Atambua NTT menviralkan Yohannis Gama Marschall Lau, seorang bocah siswa kelas VII SMP  yang secara spontan memperlihatkan jiwa patriot dan nasionalisnya memanjat tiang bendera untuk meraih tali penggerek di ujung tiang bendera dan membawanya turun kembali, serta beberapa catatan yang mewarnai HUT RI di beberapa daerah di penjuru tanah air.
KETIGA sehari setelah detik detik HUT RI ke 73, yakni 18 Agustus 2018 dilaksanakan seremonial pembukaan Asean Games di GBK Jakarta. Sebuah acara seremonial kolosal yang menandai dimulainya perhelatan akbar pesta olahraga lingkup negara dan bangsa di daratan Benua Asia. Ini sebuah prestise bagi bangsa ini setelah tahun 1962  atau 56 tahun lalu sukses menjadi tuan rumah dan di 2018 ini kembali menjadi tuan rumah diajang yang sama.
KEEMPAT kurang dari satu minggu atau lima hari pasca HUT RI ke 73 tepatnya pada Rabu 22 Agustus 2018 (di Indonesia) dan diseluruh penjuru dunia Islam akan merayakan Idul Qurban 1439 H. Bagi kita umat Islam, Idul Qurban merupakan hari raya yang penuh makna historis, sosial, maupun filosofis. Secara historis Idul Qurban lahir dari adanya rasa ikhlas Nabi Ibrahim AS beserta anaknya yaitu Nabi Ismail AS, untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bagi Nabi Ibrahim, upaya mengikhlaskan anaknya Ismail untuk dikurbankan dapat menjadi sebuah ujian yang sangat berat, karena pada hakekatnya beliau sudah lama menantikan seorang anak yang diharapkan dapat menjadi generasi penerusnya. Namun karena perintah dari Allah SWT, maka keduanya saling meneguhkan hati untuk menjalankan apa yang diperintahkan. Rasa ikhlas hati itulah yang kemudian  Allah SWT, memerintahkan keduanya untuk menggantinya dengan menyembelih hewan kurban.
Dari empat catatan penulis diatas; PENCAPRESAN – HUT RI – ASEAN GAMES – IDUL QURBAN 1439 H,  intinya terletak pada kemauan dan keikhlasan untuk ber”korban”. Seorang yang telah mendeklarasikan dirinya maju sebagai calon pemimpin politik terlebih dalam kapasitas sebagai CaPres dan CaWapres haruslah mewakafkan seluruh hidupnya buat kemajuan dan kesejahteraan rakyat di negeri ini. Wajib hukumnya berlaku adil untuk semua rakyatnya, tidak mengutamakan kepentingan pribadi, golongan, kroni-kroni dan parpol pendukungnya tapi kepentingan rakyat harus menjadi harga mati. Intinya kepemimpinan nasional harus menjadikan manusia Indonesia sebagai manusia seutuhnya atau dalam bahasa paedagogieknya memanusiakan manusia, menjadikan rakyat sebagai tuan rumah di negerinya, bukan menjadikan pengangguran yang hanya duduk lapar dalam keterbatasan dan kesengsaraan,  menyaksikan pekerja-pekerja “aseng” menikmati lezatnya kue kemerdekaan yang terhidang di atas permadani Nusantara selama 73 tahun di negeri ini.
Dari fakta yang ada boleh dikatakan hingga saat ini belum sepenuhnya ada sinkronisasi antara aktivitas berkurban melalui penyerahan dan penyembelihan hewan dengan nilai-nilai dari Idul Qurban itu sendiri. Masih ada politisi dan pemimpin Muslim yang kemudian tersangkut kasus korupsi dan menyalahgunakan jabatan. Ketika seorang politisi dan pemimpin Muslim terlibat sebuah kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang maka ada orientasi duniawi yang sesungguhnya belum berhasil dia selesaikan, sebab rasa ikhlas dan menjadikan pekerjaan sebagai ibadah belum menjadi bagian yang menyatu dalam diri dan jiwanya. Esensi nilai qurban apabila diterapkan secara benar dalam politik maka seharusnya dapat mengubah orientasi duniawi seorang politisi atau pemimpin, alasannya bahwa kurban mengajarkan dan mencontohkan bagaimana manusia harus memiliki keikhlasan dan kepekaan sosial. Seorang politisi dan pemimpin yang berkurban seharusnya dapat meresapi makna tersebut, yaitu bagaimana rasa saling berbagi itu dapat diimplementasikan dalam keseharian kehidupannya.
Ketika rasa berbagi berhasil diresapi maka orientasi dalam menjalankan pekerjaan akan tertuju kepada kepentingan rakyat, dimana yang bersangkutan kemudian menjadikan profesi dan keahliannya sebagai ladang untuk beramal dan beribadah.
Sepatutnya telah selesai dengan urusan orientasi duniawinya, keahlian dan pekerjaan yang dilakukannya perlu sepenuhnya dilakukan untuk kepentingan rakyat. Ketika rakyat diperhatikan dengan baik, dan antara rakyat dengan pemimpin tidak ada batasan sosial, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang maju, sejahtera dan berkeadilan. Semoga dengan momentum Pencapresan, HUT RI, Asean Games dan Idul Qurban dapat diresapi nilai-nilainya sehingga memberikan kontribusi  positif  pada  kemakmuran rakyat di Tanah Air tercinta ini…Merdeka, Selamat Idul Qurban 1439 H….
(By. Abdurrauf Shaleng di Watansoppeng SulSel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *