Nurlaelah, Srikandi Pengawas Pemilu Di Soppeng

Bagikan Berita

MAJALAHPRO, SOPPENG – Berawal dari menjadi penyuluh pertanian kontrak di tahun 2007, Nurlaelah,SP terus meniti karir hingga ditahun 2018, berhasil menjadi salah satu pimpinan dari Tiga pimpinan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Soppeng.

Semakin spesial karena Nurlaelah merupakan satu satunya wanita dari keseluruhan Pimpinan Bawaslu Soppeng lainnya.

“Sekitar Tahun 2012, ada pendaftaran untuk Panwas Kabupaten untuk pemilihan Gubernur, dan saya berminat, jadilah saya ke Pare Pare untuk mengikuti tes, namun saat itu saya hanya berada diurutan ke empat, dan hanya masuk ke Panwas Kecamatan”

“Setelah selesai periode pemilihan gubernur, ada evaluasi karena salah satu pimpinan Panwas masuk ke KPU, dan nama saya yang terpilih untuk mengisi jabatan yang kosong, tetapi pada saat itu, saya masih tetap bekerja, baik sebagai Panwas maupun sebagai Penyuluh Pertanian” tutur Nurlaelah.

Baru saat pemilihan Gubenur, wanita Kelahiran Tajuncu 21 Oktober 1972 ini memilih meninggalkan pekerjaan sebagai penyuluh pertanian, untuk fokus bekerja sebagai Komisioner Panwaslu Kabupaten Soppeng terpilih.

Ketertarikan dalam menegakkan keadilan pemilu pun menjadi motivasi tersendiri baginya dalam memilih pekerjaan ini.

“Pekerjaan sebagai penyelenggara itu memang berat, setiap saat kita harus mengambil tindakan yang sesuai dengan Undang Undang, Namun disitulah justru saya merasa tertantang untuk ikut berkontribusi lebih dalam penyelenggaraan pemilu ini”

“Tantangan akan selalu datang, namun dengan integritas yang selalu dijaga, serta keinginan untuk selalu belajar mengetahui mekanisme maka semuanya tidak akan sulit” tuturnya.

Suka duka pun banyak dialami Nurlaelah dalam menjalankan keseharian sebagai Pimpinan Bawaslu Kabupaten Soppeng, baik dari internal maupun dari eksternal.

“Diawal awal meniti karir sebagai Panwas, integritas saya banyak diragukan oleh sejumlah pihak, namun seiring berjalannya waktu saya bisa membuktikan kepada mereka, keseharian saya diluar dan sikap saya menjadi contohnya”

“Karena seperti apa yang selalu dikatakan oleh pimpinan kami bahwa dalam mengelola organisasi itu bukan kepintaran yang diutamakan, namun bagaimana kemampuan kita bisa mengelola organisasi ini baik didalam maupun diluar” tuturnya. (Id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *