Samsu Niang: Kita Jaga Pancasila dengan Sosialisasi 4 Pilar

Bagikan Berita
Keterangan Gambar. SOSIALISASI–Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. H. Samsu Niang, M. Pd.,saat melakukan sosialisasi empat pilar di Baruga Mainnong, Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa, 5 Juni 2018.
MAKASSAR, Breaking SulSel – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. H. Samsu Niang, M. Pd.,menegaskan, pelaksanaan sosialisasi empat pilar merupakan bentuk nyata dari upaya pemerintah dan kita semua dalam menjaga Pancasila sebagai idelogi negara. Sebab, pelaksanaam sosialisasi menjadikan masyarakat tahu akan keberadaan Pancasila sebagai ideology negara.
“Hari ini, kita melaksanakan sosialisasi empat pilar sebagai salah satu bentuk nyata dari upaya menjaga nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan kita,” ujar Samsu Niang saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar di Baruga Mainnong, Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri,  Kabupaten Soppeng, Selasa, 5 Juni 2018 lalu.
Menurut dia, keberadaan Pancasila sebagai ideology dan dasar falsafah negara harus terus dijaga dan dipelihara. Bahkan, bila perlu ke depan dibentuk lembaga khusus untuk melakukan sosialisasi terhadap empat pilar dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKR dan Bhinneka Tunggal Ika. “Pembentukan lembaga tersebut akan menjadi wadah bagi terselenggaranya sosialisasi empat pilar ke seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Dijelaskan Samsu Niang, keempat pilar ini merupakan perekat kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. “Saya sangat yakin, tanpa empat pilar ini, masyarakat Indonesia akan hidup pecah belah. Bahkan, kondisi ini akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, keberadaan empat pilar ini harus dijaga dan dipelihara dengan baik,” ujarnya.
Saat ini, jelas dia, kondisi perpolitikan Indonesia sudah terpolarisasi ke dalam politik identitas yang bahkan sudah masuk ke wilayah memersoalkan keberadaan Pancasila sebagai ideology negara. Hal ini sangat berbahaya. “Jadi, kita harus terus bekerja untuk mempertahankannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *