Yassisopengi Soppeng Dalam Keberagaman

Bagikan Berita

Oleh : H. A. Ahmad Saransi

Kata yassisoppengi dari sisi simantik sudah selesai, tetapi dari sisi makna dalam arti pemaknaan, terus mencari isi dan makna baru. Yassisoppengi dalam hal ini ide tentang Soppeng pun dinamis menghasilkan ide-ide dan nilai-nilai yang digali dan dikembangkan tidak oleh teori, tetapi oleh pengalaman bersama. Yassisoppengi menjadi sebutan tepat, mewadahi pencarian dan pembakuan yang tidak akan pernah berakhir.

Kondisi yang dihadapi warga Soppeng dalam yassisoppengi adalah kenyataan warga Soppeng serba beragam atau serba majemuk. Menarik untuk disimak kejadian pada akhir tahun 2017 tentang aksi penolakan festival waria di Soppeng dan menjelang festival budaya dan seminar internasional I La Galigo muncul seorang warga Soppeng mengalami dongko-dongkokeng atau kesurupan atas rencana perhelatan festival budaya I La Galigo di Soppeng pada tanggal 17 – 21 Desember tahun 2018.

Penolakan ini disenyalir dengan alasan yang mengemuka karena festival budaya ini bertentangan dengan ajaran agama, membawa kemusjrikan menyembah entitas lain dan mappadua atau mensekutukan Tuhan, dan karena itu harus dirubah atau dihentikan.
Kejadian ini merupakan kontestasi antara budaya dan agama, jika tidak segera direspons, maka polarisasi dan konsekuensinya tabrakan antara aras budaya dan aras agama akan semakin banyak dan memicu konflik terbuka antara kelompok di Soppeng.

Sebagaimana terjadinya perang saudara antara Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja pada masa silam.
Sesungguhnya kedua kelompok ini merupakan penganut Islam sejati, namun keduanya memiliki pandangan berbeda. Kelompok islam intoleran (maaf) menyikapi ritual budaya dengan paradigma bahwa tradisi budaya yang tidak datang dari masa Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya dianggap perlu dibuang. Kelompok ini menafikan fakta bahwa setiap ritual tradisi juga membawa nilai-nilai utama yang sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai islami.

Sedangkan kelompok islam toleran menerima ritual budaya sebagai salah satu wujud ekspresi nilai-nilai. Bahwa nilai-nilai yang muncul dari ritual tersebut tidak mendorong orang meninggalkan nilai-nilai Islam seperti ketauhidan dan syariat Islam lainnya. Mereka menyakini bahwa Islam yang berkembang di Soppeng justru karena ia toleran terhadap ritual tradisi yang berkembang mendahuluinya. Saat Islam menyebar di kerajaan Soppeng Syekh Abdul Majid Tuan Uddungeng – penyebar Islam di Soppeng – memberi muatan dan pemaknaan baru terhadap tradisi yang sudah ada, misalnya saja tradisi pembacaan galigona Maeong Palo Karellae atau lebih populer disebut tradisi Maddoja Bine pada saat akan menabur benih padi tidak serta merta dilarang namun tetap dipertahankan dengan melekatkan makna baru.

Oleh karena itu perlu kita sadari bersama bahwa persoalan besar yang menjadi tali simpul dalam yassisopengi Soppeng adalah perlunya duduk bersama para tokoh agama, tokoh budaya dan pemerintah dalam rangka membicarakan mengenai budaya dan agama tidak harus dipertentangkan. Tak semestinya kedua nilai itu meniadakan satu sama lain. Sebaliknya keduanya harus saling melengkapi dan memperkaya dengan tetap megindahkan nilai agama akan menjadi stimulans utamanya bagi kaum milineal Soppeng untuk memperluas ruang imajinasinya dalam upaya komodifikasi budaya. Nilai-nilai pangadereng sebagai nilai-nilai utama yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Bugis Makassar seperti, siri, (etos kerja), pesse (kegotong royongan), maggaligo atau massure’ (literasi) dan lain-lain dapat terus diharmonisasikan.

Sesungguhnya yassisoppengi Soppeng itu sudah, sedang, dan akan terjadi. Sudah, dalam arti terbentuknya Soppeng dibangun di atas kemajemukan yaitu intergrasi dari dua kerajaan kembar yaitu Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja menjadi kerajaan Soppeng. Sedang, yassisoppengi soppeng terus dikembangkan dengan pengertian dan pemaknaan baru dalam menegara sebagai bagian tak terpisahkan dari negara kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Soppeng sebagai bagian intergral dari negara kesatuan Republik Indonesia terus menghadapi dan mengisi masa depannya. Masa depan tidak datang dengan sendirinya tetapi harus didatangkan, harus dihadapi dan diisi.

Akhirnya pemerintah daerah selaku pengayom atau pembimbing pada warga Soppeng menyasar pada dua tindakan pokok, pembangunan fisik dan pembangunan mental spiritual (pendidikan) masyarakat Soppeng. Keduanya merupakan strategi kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan, yang dalam hal ini amat perlu adanya nilai-nilai tertentu sebagai pegangan yaitu nilai yassisoppengi soppeng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *