PASAR CABENGE RIWAYATMU DULU

Bagikan Berita
PASAR CABENGE RIWAYATMU DULU
Oleh : H. A. Ahmad Saransi
Majalah Pro.Co.Id —- Pasang surut pasar Cabenge laksana ombak menghempas kessi lebba é di Cabbeng Alau Salo atau pada hamparan pasir di Bone Balla, kadang meninggalkan goresan dan kadang berlalu saja. Begitulah keadaannya pasar lama Cabenge dan org2 yg pernah beraktifitas dan menyejarah dgn penuh kenangan disitu.
Lokasi pasar cabeng memanjang dari sebelah utara (SD Dewi) hingga sebelah selatan (SD Karya) kira2 panjangnya sekitar 700 meter lebih. Dari luas lahan itulah para pedagang dari berbagai daerah melakukan dinamika kehidupan sosial ekonominya.
Dalam naskah lontara diriwayatkan bahwa Cabenge pernah menjadi soreang lopi (pelabuhan) untuk penjualan  beras keluar kerajaan Soppeng (pintu timur).
Dari jaman kerajaan hingga era tahun 1970an Pasar Cabenge merupakan sumber pendapatan pajak (sessung) tertinggi bagi pemenrintah daerah Soppeng. Dalam catatan arsip disebutkan bhw Pasar Cabenge pernah menduduki urutan ke 3 paling ramai di Sulawesi Selatan, setelah Makassar, dan pasar Wonomulyo – Polmas.
Keramaiannya teegambar pada hari pasarnya yaitu hari Senin dan Jumat, namun berhubung banyaknya pedagang berdatangan mulai hari kamis maka pada hari itulah  di mulai aktifitas perdagangan hasil bumi dan tembakau. Kemudiab sering pula dilakukan aktifiitas pasar malam.
Sejak jaman Belanda pasar Cabenge telah melahirkan generasi enterpreneur hebat dan,sudah  terorganisir dalam organisasi modern dgn nama PEDALI (Persekutuan Dagang Lilirilau). Disitu bergabung pedagang hebat seperti H. Laummung cikal bakal lahirnya pengusaha suplayer bahan bakar dan usaha mobil angkatan Ridha, H. Mattarima (melahirkan pengusaha Abdul Wahid), H. Salo, dll.
Setelah Indonesia merdeka pasar Cabenge menjadi magnet perdagangan di Sulawesi Selatan, dan mobilitas sosial secara dinamis terjadi di Cabenge. Hal ini didukung berbagai peeusahaan angkutan muncul dan masuk di Cabenge. seperti Pipos, Beddu Solo, Rahmat, Ridha, Wajo Bale, semuanya mempunyai perwakilan di Cabenge. Sedangkan entrepreneur lokal Cabenge ikut pula meramaikan usaha angkutan ini, ratusan usaha pateke dan bendi ( Massalanra, Ambo Upe dll), begitupun usaha tiga roda (roda panrung), dan puluhan pengusaha angkutan mobil truk. ( usaha angkutan mobil truk akan ditulis tersendiri).
Namun geliat pasar Cabenge mulai menurun seiirng mendangkalnya sungai Walanae. Hempasan arus sungai wlanae semakin ganas meruntuhkan tebing2 pesisir Cabenge dan banjir pun melanda Cabenge.
Hal itulah membuat pemerintah Daerah Soppeng berpikiir untuk memindahkannya. Maka pada tanggal 1 September 1969 dimulailah pembangunan Pasar Sentral Cabenge di Dare Bunga-Bungae-Pajalesang.  Enam bulan kemudian tepatnya tgl. 1 Juli 1970 Panglima Kodam XIV Hasanuddin Abd Azis meresmikannya.
Saat itulah Pasar Cabenge mulai surut hingga mati suri seperti saat sekarang ini.
#CabengCabbengmuCabbengKitaSemua. (Bersambung).