Percakapan Imajiner di Sudut Pantai Losari

Bagikan Berita
Percakapan imajiner di sudut pantai Losari
‘’ Ante Kamma Carita na Ana Beru Lasu
Kulle mi asareang Pammuji ’’
Oleh Upa Labuhari SH MH
Majalah Pro.Co.Id — Dalam suatu pertemuan yang tidak direncanakan disebuah warkop di sudut kota Pantai Losari Makassar, saya bertemu dengan dua orang rekan wartawan yang baru saja menghadiri pesta lima tahunan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia propinsi Sulawesi selatan. Seorang di antara mereka bernama Andi Daeng dan seorang lagi bernama Siti Chalijah. Dipertemuan yang sudah lama kami tidak lakukan , sejak pertemuan terakhir tiga tahun lalu di Mall Plaza Indonesia Jakarta Pusat , Andi Daeng langsung berceloteh , ‘’ Ini baru disebut berita baru ‘’.

Celoteh , Andi Daeng ini sepertinya sudah disiapkan beberapa jam sebelum dilampiaskan kepada saya dan rekannya Siti Chalijah. Padahal Andi Daeng, yang saya kenal sebagai seorang rekan wartawan Makassar pada sebuah media di Jakarta, adalah jurnalis yang tidak banyak bicara kalau tidak diajak lebih dahulu bicara. ‘’ kenapa ki berceloteh seperti ini , andi daeng ’’ kata saya setelah dipersilahkan duduk oleh Siti Chadijah .

‘’ Beberapa hari lalu, saya pulang menyaksikan pelantikan pengurus organisasi wartawan tertua di Indonesia yang popular disebut Persatuan Wartawan Indonesia propinsi Sulawesi Selatan di hotel Claro Makassar Sabtu 10 April lalu’’ ,katanya bersemangat. Yang hadir bukan hanya Kapolda Sulsel tapi juga Walikota Makassar Mohammad Ramadhan Pamanto serta beberapa orang Bupati se Sulsel serta Ketua PWI Pusat arenna Atal S Depari.

‘’ Hanya saja jagoku yang sekarang ini menjabat pelaksana tugas Gubernur Sulsel Andi Sulaeman yang bersemangat akan hadir dalam upacara ini ,tidak kelihatan batang hidungnya ’’ kata Andi Daeng melemah seperti menyesali jagonya tidak hadir. ‘’ Kenapa jago ta tidak hadir’’ kata saya mencoba memberi semangat kepada Andi Daeng . ‘’ Tidak mi ku tau itu, kenapa plt Gubernur Sulsel tidak hadir dalam acara di hotel Claro ini ‘’ kata andi daeng melemah lagi.

Untuk memberi semangat lagi kepada andi daeng , sayapun mencoba membalas jawabannya itu dengan mengatakan ‘’ kata orang jago ta itu tidak hadir di acara pelantikan pengurus PWI Propinsi Sulsel karena takut ditagih uang na satu miliar oleh pengurus yang dilantik setelah mereka mengirimkan proposal meminta bantuan dana untuk digunakan membiayai wartawan di daerah ini dalam rangka uji kompetensi. ‘’
‘’Berita hoax itu , tidak benar ‘’ kata andi daeng seolah olah membela jagonya yang tidak datang di acara perhelatan lima tahunan pengurus wartawan Sulsel. Ia pun menambahkan bahwa berita yang didapat kenapa jagonya tidak datang di acara ini karena ia pergi melaksanakan tugas yang lebih penting diluar kota makassar pada hari itu .
Dan ada juga yang menyebutkan, jagonya tidak hadir dalam acara yang sudah digembar gemborkan oleh pengurus wartawan yang dilantik karena mengetahui acara pemilihan pengurus atau Bahasa kerennya konferensi propensi Sulsel, penuh dengan manipulasi data sehingga muncul tiga kelompok wartawan di makassar dalam organisasi PWI yaitu kelompok yang dipimpin oleh Agus Alwi Hamu, kelompok kontra kepemimpinan Agus Alwi Hamu dan yang kelompok netral.

‘’Lalu kenapa kita sebut pelantikan itu aneh bin ajaib ‘’ tanya saya. Pertanyaan ini langsung disambut oleh Andi Daeng dengan mengatakan ‘’, bagaimana ku tidak disebut ki demikian, Pengurus baru PWI Sulsel periode 2021-2026 itu kan baru di lantik ,na kana tau mangkasaraka ‘’ ana lolo beru lassu’’ tapi kullemi appamuji pejabat di Sulsel. Kullei na pamuji Kapolda Sulsel Irjen Pol Drs Merdy Syam, Walikota Makassar siagang bupati aganna’’ .

‘’ Padahal kalau dilihat kenyataan sehari hari, kata Andi Daeng dalam dialek campuran bahasa Makassar dan Bahasa Indonesia , belum ada pi prestasinya yang diberikan oleh pejabat yang diberikan penghargaan kepada wartawan sulsel sehingga kulle mami ku kana mereka dikategorikan belum pantas diberi piagam penghargaan sebagai orang yang harus menerima penghargaan’’.

‘’Bagaimana bisa hal itu terjadi’’ tanya andi daeng yang dijawab sendiri dengan Bahasa makassar yang fasih ‘’ ana lolo beru lassu kuleh mi sare piagam pemmuji , anne arenna na kana tau mengkasara nia massuna ana beru lassuka assareang pammuji . Punna tena massuna , ante kamma na kulle ‘’ . Dan yang lebih memprihatinkan lagi yang menerima piagam penghargaan itu, kenapa na mereka mau menerima piagam dari orang yang baru lahir’’ tambahnya.

‘’Seharusnya kalau penerima piagam itu orang pintar yang selalu mendorong keterbukaan public, piagam itu ditolak untuk diterima’’ Atau setidak-tidaknya hari hari berikutnya piagam itu diserahkan Kembali kepada sipemberi dengan ucapan tarima kasih angang , ka beruko lassu kulleh moko sare pammuji‘’.

Untuk menambah semangat diperbincangan ini yang sudah mendapat perhatian pengunjung kafe, sayapun mengeluarkan pertanyaan ‘’kenapa pula kita sebut peristiwa pelantikan itu ‘’ ini baru berita beseng beseng ’’, kata saya pura-pura seperti orang yang tidak mengerti akan proses pelantikan pengurus PWI Sulsel periode 2021-2026 oleh pengurus PWI Pusat Atal S Depari. ‘’ Bagaimana saya tidak disebut peristiwa ini aneh’’ kata andi daeng , sehari setelah organisasi yang baru lahir ini dilantik dengan diketuai oleh seorang penguasa media di Makassar, didalam koran na yang dipimpinnya muncul iklan besar besar tanda ucapan tanda terima kasih. ‘’Tuluskah Pembuatan iklan itu ‘’ kita tong mo yang menganalisanya karena kita wartawan dari Jakarta, tau mana berita terselubung dan mana berita yang tulus’’ kata andi Daeng mengelus dada.

Tidak mau ketinggalan berbicara , seperti singa betina mendapat kesempatan untuk menerkam, Siti Chalijah buka suara’’ seharusnya pengurus yang baru dilantik menyatakan permintaan maaf kepada wartawan wartawan senior di daerah ini yang suaranya tidak terakomodasi dalam pemilihan atau konferensi propinsi yang dilaksanakan di hotel Gammara diakhir Januari lalu’’.

‘’ Jangan arogansi dengan kesombongan bahwa dialah yang berhak duduk sebagai ketua PWI Sulsel setelah melalui konferensi yang dianulir oleh Ketua Dewan Kehormatan PWI di Jakarta’’.

Kalau begini caranya saya yang juga punya hak sebagai pemilih pengurus PWI Sulsel tapi tidak diikut sertakan dalam acara pemilihan itu, karena terkena SK 164 PWI Pusat . kata Siti Chalijah dengan nada keras’’ mendukung kebijakan yang diambil kawan kawan senior PWI Sulsel untuk menggugat pengurus PWI Pusat dan PWI Sulsel .

‘’ Kapankah gugatannya itu dimasukkan ke Pengadilan makassar’’ tanya Siti Chalijah kepada saya dan Andi Daeng. ‘’ Kalau tidak ku salah dengar dari kawan-kawan yang kontra dengan pengurus baru PWI Sulsel,’’ insya allah kalau tidak ada halangan pada tanggal 21 April, gugatan itu akan dimasukkan ke Pengadilan Negeri makassar oleh pengacaranya dari Jakarta ‘’ kata andi daeng membalas pertanyaan Siti Chalijah.

Kenapa kah na pakai tanggal 21 April,tanya Siti Chalijah lagi sambal menyambung . ‘’ Itu kan hari Kartini, hari lahirnya emansipasi perempuan di Indonesia. ‘’ tambahnya yang langsung disahut oleh Andi Daeng dengan mengatakan ‘’ itu mi tongkak sejarah perjuangan para wartawan senior di Makassar’’ Mereka melawan kelaliman para rekannya yang duduk di kepengurusan PWI Sulsel yang tidak punya kompetensi sebagai wartawan. ‘’ Itu bisa mi dibilang wartawan palsu . Di bilang dia wartawan tapi kerjanya pabalu cotoh atau pabalu juku bokno ‘’.

Mendengar ketegangan kedua rekan yang sudah saling adu pendapat, sayapun buka bicara dengan mengatakan ‘’ insyaallah, gugatan perbuatan melawan hukum ini, akan dilayangkan ke Pengadilan Negeri Makassar dengan tergugat satu Pengurus PWI Sulsel dan tergugat dua PWI Pusat serta Dewan Kehormatan PWI sebagai ikut tergugat ‘’. Mereka bertiga diharapkan dapat melaksanakan permintaan para wartawan senior PWI Sulsel sebagai penggugat untuk melaksanakan putusan pengadilan Negeri Makassar yang diharapkan dapat membatalkan pemilihan dan pelantikan pengurus PWI Sulsel periode 2021-2026 yang telah dilakukan oleh PWI Pusat.

Selain itu kata saya, penggugat memohon kepada pengadilan agar menjatuhkan hukum kepada pengurus PWI Pusat untuk mengadakan pemilihan ulang pengurus PWI Sulsel berdasarkan PDPRT PWI yang telah ditetapkan oleh Kongres PWI ke 24 di Solo tahun 2018. Dan meminta kepada Dewan Kehormatan PWI sebagai Lembaga pengawas organisasi PWI seluruh Indonesia agar mengawasi pelaksanaan putusan Pengadilan Negeri Makassar demi tegaknya keadilan dan kebenaran di tanah air . ‘’Ewako’’ kata saya

‘’Oh begitu carita na’’ , kata andi daeng dan Siti Chaliyah. ‘’Bagusna punna kamma injo jalan caritana. Semoga sukseski wartawan Sulsel mempersatukan dirinya dalam wadah PWI Sulsel.

‘’ Salamaki’’ kata kawanku andi Daeng dan Siti Chalijah . ‘’Mari maki minum Saraba na dulu sama lame kayu corenna yang pakai sambal terasi , ka sudah mi waktunya buka , biar tenang pikiranta semua selesai melaksanakan ibadah puasa.