Lagaligo dan Awal Mula Suku Bugis

Bagikan Berita

oleh Markarma

Pelaksanaan Festival Lagaligo pada Oktober mendatang, mungkin bisa membuat kita lebih termotivasi mendalami dan mengetahui seperti apa sebenarnya isi dari Karya Sastra kebanggan Suku Bugis ini.

Dianggap sebagai karya sastra terpanjang di dunia dan melebihi Mahabrata sekalipun, Sejumlah kisah pun di Cantumkan dalam halaman per halaman I Lagaligo.

Namun sebelum membaca I Lagaligo secara utuh, ada baiknya kita sedikit menyelami cerita mengenai awal mula Suku Bugis dalam referensi yang berbeda dalam artian dan tujuan yang sama.

Dilansir dari Bugiskha, diceritakan bahwa Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata “Bugis” sendiri berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.

La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan.

Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang.

Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.

Dan Saat ini orang Bugis sendiri sudah tersebar dalam beberapa Kabupaten di Sulawesi seperti Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, dan Barru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *